Tuhan Bersama Para Anti-Hero

Categories FandomPosted on

Anti-hero bukanlah villain. Mereka juga pahlawan tapi bukan. Mereka egois, menipu, melakukan apa saja demi mencapai tujuan.

Dulu sekali, saat dunia masih sangat sederhana, ketakutan nenek moyang kita hanya pada dua hal: kelaparan dan “monster-monster” di luar gua primitif tempat mereka berdiam. Nyala api unggun dalam gua tersebut kemudian melahirkan legenda tentang sosok pelindung yang mampu mengalahkan ketidakberdayaan mereka. Sosok ini digambarkan layaknya dewa-dewi, tanpa cela. Mereka mampu mengendalikan cuaca, cepat seperti angin, berotot kawat bertulang besi.

Seiring perkembangan zaman, manusia dilimpahi berbagai pengetahuan. Ketakutan lama tentang “monster-monster di luar sana” kemudian mencair. Legenda tentang para pahlawan berganti rupa. Pahlawan dinarasikan semakin mendekati figur manusia. Mereka punya banyak kekurangan, lemah, jauh dari kesan sempurna. Lahirlah Don Quixote, Macbeth, Othello dari literasi klasik dan Han Solo, V, Lisbeth Salander, Walter White dari budaya pop. Barisan nama yang kemudian kita kenal dengan anti-hero.

Anti-hero bukanlah villain. Mereka juga pahlawan tapi bukan. Maksudnya begini, tujuan aksi mereka layaknya pahlawan tradisional, namun motivasi dan proses dalam aksi tersebut di luar kode etik pahlawan tradisional. Mereka egois, menipu, melakukan apa saja demi mencapai tujuan. Anti-hero dalam beberapa karya juga digambarkan “bercacat”: masa lalu yang kelam, buruk rupa, atau bahkan terlalu lemah untuk bertarung.

Segala kekurangan tersebut, menariknya, membuat para anti-hero lebih disukai. Kamu yang menggemari budaya pop pasti akrab dengan karakter anti-hero yang muncul beberapa tahun belakangan. Mulai dari Walter White, Rustin Cohle, Severus Snape, Jack Sparrow, hingga Frodo. Kenapa mereka menjadi lebih disukai?

Dunia yang kita kenal sekarang jauh lebih kompleks. Cara pandang terhadap dunia berubah. Batas antara “good” dan “evil” menjadi kabur. Perang atas nama teror, resesi ekonomi, janji dan keputusan politik membuat kita mempertanyakan kembali tentang manusia dan kemanusiaan. “Monster-monster” di luar sana memang sudah tidak ada namun lahir “monster-monster” baru. Ketakutan kita sekarang adalah soal ketamakan, kecemburuan, keragu-raguan. “Monster” yang lahir dari diri kita sendiri.

Proyeksi terhadap dunia abu-abu tersebut ramai muncul dalam produk budaya baik literasi maupun film. Karakter anti-hero lahir sebagai jawaban realistis dari karakter pahlawan tradisional yang idealis. Romantisme tentang yang putih akan selalu mengalahkan yang hitam sudah jauh dari relevan dengan kondisi saat ini. Sekarang, kita cenderung lebih skeptis.

Kedekatan inilah yang membuat kita para penikmat/penonton lebih menyukai karakter anti-hero. Mereka adalah bayang-bayang paling jujur dari diri kita. Motivasi personal, tempramen, kekeliruan, dan cara pandang negatif mereka adalah refleksi keseharian yang kita alami. Sifat tidak sempurna yang memberi ruang bagi mereka (juga kita) untuk tumbuh lebih baik, mental dan spritual. Tuah Pencipta atas ketidaksempurnaan.

Teringat kata Alfred Adler, “To be human being means to possess a feeling of inferiority which constantly presses towards its own conquest.”

Author: dhani.prima

tukang nonton casual, desainer grafis, dan ilustrator. Star Wars saga, Lord of the Ring trilogy, Forrest Gump, Band of Brothers, Game of Thrones. Ho oh layar lebar, layar kaca sama asiknya kok :p.