Tragic Villain – Menimbang Ulang Konsep Kejahatan

Categories FandomPosted on

”Even a stopped a clock is right twice a day.”
– anonymous

Gue tahu bahwa Frozen adalah film girl-centric. Tapi karena adek dan sepupu gue, cewek semua, merupakan penggemar Frozen -yang nampaknya akan menjadi ciri khas para cewek selama beberapa tahun ke depan-, mau gak mau gue jadi ngikutin dan akhirnya tertarik dengan Frozen (personally, gue lebih suka Tangled dalam beberapa hal). Yang belakangan menjadi perhatian gue dari Frozen adalah tokoh antagonisnya, Prince Hans (duh, as if Hans Gruber isn’t enough as villain).

Diceritakan bahwa menjelang akhir dari film, Hans mendobrak stereotipe ”true love” dalam film dongeng Disney dengan mengungkapkan bahwa motifnya mendekati Anna adalah sebuah tipuan untuk membunuh Anna dan Elsa agar dapat merebut tahta Kerajaan Arendelle. Namun yang seringkali luput dari perhatian orang adalah alasan mengapa Hans tega melakukan itu. Sebagai anak bungsu dari 13 bersaudara, Hans dianggap sebagai anak pembawa sial sehingga diabaikan oleh keluarganya selama kurang lebih dua tahun. Usahanya merebut Kerajaan Arendelle agar mendapat pengakuan dari keluarga, menjadikan Hans sebagai sebuah contoh dari ”tragic villain”.

Tragic villain sebenarnya bukanlah trend baru. Maleficent versi Angelina Jolie dari legenda Sleeping Beauty, Anakin Skywalker/Darth Vader, Uchiha Itachi, serta, to some extent, Prof. Severus Snape juga merupakan contoh serupa. Bagi yang belum mudeng, tragic villain (atau sympathetic villain atau anti-villain) merupakan tokoh pada cerita di mana dia menjadi penjahat bukanlah karena kehendaknya, namun karena keadaan yang memaksanya demikian.

Konsep tragic villain seakan meminta kita mengkaji ulang mengenai konsep kejahatan itu sendiri: siapakah yang layak disebut pure villain, yang hatinya murni jahat? Mengingat pada dasarnya, semua orang punya hati nurani untuk menyadari nilai-nilai kebaikan, walaupun dirinya sudah ternodai berbagai dosa atas kejahatan yang ia perbuat.

Atau kita mau menyalahkan Iblis dan setan sebagai penyebab semua kejahatan di dunia ini? Humm, bagaimana kalau kita ingat salah satu julukan baginya, yaitu ”fallen angel”. Well, depends on the stories you’ve heard, Iblis pun awalnya adalah sesosok ”malaikat” atau ”jin” atau apapun-namanya yang awalnya adalah hamba yang sangat patuh pada Tuhan. Bermula dari kesombongan dan iri terhadap maba (hamba baru) bernama Adam, iblis pun dikutuk dan menaruh dendam terhadap Adam serta keturunannya, yang notabene seluruh manusia yang pernah dan akan ada di dunia ini. Dan ya, betapapun bencinya Iblis terhadap umat manusia, dia tetaplah sesosok makhluk yang masih takut terhadap Tuhan, Sang Big Boss.

Jadi ingat, hampir semua orang di dunia nyata yang pernah disebut sebagai orang jahat, tetap pernah atau masih memiliki sisi baik dalam hidupnya. Berbeda dengan kebanyakan tokoh penjahat dalam sinetron-sinetron yang bahkan Iblis pun malu atau eneg ngeliatnya. Bukan tugas mudah memang, tapi semoga artikel ini bisa membuka mata kita mengenai bagaimana cara agar bisa menarik para ”penjahat” kembali kepada the light side of the Force. 🙂

Reza Firmansyah

Author: Reza Firmansyah

Mathematician. Doyan film dan musik sejak balita. Calon scriptwriter. Punya 3 'pahlawan' di dunia perfilman: Stanley Kubrick, James Cameron, dan Christopher Nolan.