The Twist is That There’s No Twist at All

Categories FandomPosted on

Saat menonton film Jack Ryan: Shadow Recruit (2014), saya mulai mereka-reka: dengan tema spionase, serta tagline-nya yang berbunyi “Trust no one”, saya menyangka bahwa akan ada intrik atau pengkhianatan dari pihak protagonisnya, terutama dari tokoh yang diperankan Kevin Costner. Dan ternyataa.. tidak terjadi saudara-saudara. (SPOILER ALERT. Eh, telat yak?) Ternyata dari awal plot-nya ya lurus-lurus aja. Penjahatnya jelas, jagoannya jelas, ga ada yang berubah dari awal hingga akhir. Kirain bakal ada twist macem-macem.

Namun setelah direnungkan lagi, ternyata di situ lah twist-nya: membuat kita mengira-ngira bahwa filmnya akan ada twist-nya, padahal ternyata ga ada. Bingung ya? OK, kita flashback dulu deh, ngomongin tentang pengertian twist itu dulu. Plot twist atau twist ending adalah trik yang dilakukan filmmaker untuk membuat sebuah kejadian dalam film yang benar-benar tak terduga dan bikin kita tertendang, eh tercengang. Contoh umum dari plot twist meliputi jagoannya mati (hi, Game of Thrones), semua kejadiannya ternyata mimpi (The Thirteenth Floor (1999)), atau jagoannya ternyata adalah penjahat (asli, Fast & Furious 6 (2013) bikin aku teriak “what the..?”).

Dalam industri Hollywood, plot twist menemui golden age-nya lewat film-film dari dua sutradara terkenal: David Fincher dan M. Night Shyamalan. Sejak film pertamanya pun Fincher telah membuat banyak twist seperti Alien 3 (1992) (ternyata Alien-nya anti api bro.. tapi jadi ga anti air.) , Se7en (1995) (yang tadinya hampir jadi film detektif biasa), The Game (1997) (hingga Nyokap sampe shock dan gemes sama ending-nya. Judulnya udah menyiratkan kok), dan puncaknya di Fight Club (1999) (yang gak tau bahwa Tyler Durden ternyata khayalan tokohnya Edward Norton entah karena ga punya koneksi internet atau ngelewatin kalimat ini. Oops.).

Sedangkan M. Night Shyamalan.. Gak jauh beda. Dari film pertamanya, The Sixth Sense (1999), udah bikin orang tercengang dan buru-buru nonton lagi dari awal buat mastiin ceritanya. Bedanya dengan Fincher adalah, film-filmnya Fincher banyak yang masih lumayan diakui hingga sekarang, sedangkan Shyamalan cuma paling mentok di film pertama atau kedua doang (Unbreakable (2000)), sedangkan sisanya banyak yang dianggap terlalu aneh twist-nya atau ceritanya yang rusak. Ambil contoh Lady in the Water (2006), The Happening (2008), atau The Last Airbender (2010) (bahkan hingga temenku menyebutnya “M. Night Shyalan”).

Berkat dua sutradara tersebut, banyak filmmaker yang tertantang untuk mengejutkan para penonton dengan twist-twist yang memukau. Ada beberapa yang berhasil, namun lama-lama orang mulai kebal. Apa poin dari bikin twist ketika banyak orang melakukan hal serupa? Bukankah dengan membuat orang mengetahui bahwa kita akan memberikan twist, maka separuh dari twist itu sendiri sudah terkuak?

Kalau sudah begini, maka ada dua pilihan: membuat twist yang bahkan lebih liar dan jauh lebih tak terduga, atau tidak memberikan twist sama sekali di saat orang mengira kita akan memberikan twist, yang pada akhirnya menjadi sebuah twist tersendiri. Cara kedua inilah yang nampaknya dilakukan Jack Ryan: Shadow Recruit. Sebenernya sih, Shadow Recruit bukanlah film yang luar biasa, namun caranya memberikan ‘twist’ tadi bisa menjadi bahan introspeksi bagi para filmmaker untuk lebih rapi dalam membuat twist, agar para penonton tetap bisa terhibur dan menebak-nebak hingga twist-nya terkuak. Betul betul betul?

Reza Firmansyah

Author: Reza Firmansyah

Mathematician. Doyan film dan musik sejak balita. Calon scriptwriter. Punya 3 'pahlawan' di dunia perfilman: Stanley Kubrick, James Cameron, dan Christopher Nolan.