Teknik ‘Part-ifikasi’ Hollywood

Categories FandomPosted on

Sejak kesuksesan Harry Potter, nampaknya Hollywood mulai sering menggunakan teknik “part-ifikasi” dalam film-film adaptasinya. “Part-ifikasi” yang dimaskud adalah ‘membelah’ sebuah film adaptasi menjadi dua film atau lebih. Contoh nyata dari Harry Potter adalah Deathly Hallows Part 1 & 2, Breaking Dawn Part 1 & 2 (dari Twilight Saga), Mockingjay Part 1 & 2 (dari The Hunger Games), The Hobbit (satu buku menjadi tiga film, yang harusnya tadinya hanya dua film), Allegiant Part 1 & 2 (dari Divergent Series), dan banyak lagi.

Memang Deathly Hallows bukan yang pertama menggunakan teknik ini: film seperti Kill Bill pun dibagi menjadi Vol. 1 & 2 karena terlalu panjang untuk ditayangkan sebagai satu film utuh. Namun kecenderungan Hollywood dalam menggunakan teknik tersebut menuai beberapa kritik: di antaranya agar dapat mendulang uang lebih banyak, memainkan perasaan penggemar karya yang diadaptasi (kecuali untuk fans yang memang tidak ingin filmnya cepat berakhir), serta pembagian menjadi dua film atau lebih dapat merusak mood penonton, mengingat biasanya Part 1 akan dapat di-skip (tentu saja, Part 2 atau penutup biasanya lebih menjanjikan tontonan yang bombastis, sedangkan Part 1 biasanya hanya pendahuluan atau prelude menuju final showdown).

Lalu, apakah trend ini perlu dihentikan? Tidak juga. Buku-buku panjang, yang jika diadaptasi dapat berdurasi hingga empat atau lima jam, memang perlu untuk dibagi menjadi dua bagian agar dapat menjaga mood penonton. Atau, jika ingin tetap menjadi satu film, jika filmnya masih berdurasi di bawah lima jam, maka teknik Intermission & Entr’acte (‘break’ di tengah film), yang sering dipakai film-film kolosal tahun 1950-an, dapat diaktifkan kembali agar penonton dapat beristirahat sejenak di tengah film untuk membeli jajanan, ke kamar mandi, atau bahkan sembahyang. Namun kritikan muncul ketika film yang di-split (biasanya buku pamungkas dari seri yang diadaptasi) adalah buku yang bahkan cukup untuk diadaptasi dalam satu film saja, seperti Breaking Dawn, Mockingjay (hanya sembilan halaman lebih banyak dari Catching Fire. Bukan 19, atau 90. 9. SEMBILAN.), atau Allegiant. Harry Potter pun tidak luput dari kritik: jika Deathly Hallows dapat di-split menjadi dua film (bukunya setebal 700-800 halaman), mengapa Order of Phoenix (1200 halaman) malah menjadi film paling pendek di seri Harry Potter (kurang dari 2,5 jam)?

Kembali lagi, apapun teknik yang dipakai Hollywood dalam membuat film-filmnya, selama mereka menunjukkan niat tulus untuk menghasilkan karya yang mumpuni, maka apapun yang dihasilkan akan lebih memukau, bahkan jika teknik dan hasil yang diberikan belum sempurna. Begitu pula dengan teknik part-ifikasi ini, selama film-film yang dihasilkan tetap bagus dan tidak mengada-ada (saya pribadi berharap Avengers: Infinity War Part 1 & 2 akan benar-benar memukau, setelah penantian panjang sejak Iron Man 1), maka penonton tidak akan terlalu mempermasalahkan. Bagaimana menurut Anda?

Reza Firmansyah

Author: Reza Firmansyah

Mathematician. Doyan film dan musik sejak balita. Calon scriptwriter. Punya 3 'pahlawan' di dunia perfilman: Stanley Kubrick, James Cameron, dan Christopher Nolan.