Review : Laura & Marsha, Isu Perempuan yang Nanggung

Categories ReviewsPosted on
Featured Video Play Icon

Film dibuka dengan sebuah kartu pos misterius bergambar diantarkan ke rumah Laura. Kartu pos itu memang bukan kartu pos biasa, karena merupakan salah satu kunci ke mana film Laura & Marsha ini bergulir. Saya senang sekali melihat adegan tersebut, di mana PT. POS INDONESIA sepertinya menjadi sponsor film ini. Kenapa senang? Di era digitalisasi seperti ini, masih saja ada orang yang mengirim kartu pos, surat dan sebagainya. Menurut saya, ini adegan yang epic.

Film ini bercerita tentang persahabatan Laura (Prisia Nasution, Sang Penari) dan Marsha (Adinia Wirasti, 3 Hari untuk Selamanya) yang sifatnya bertolak belakang. Laura yang bekerja di sebuah agent travel, hidupnya teratur, kaku, dan feminin. Marsha adalah seorang penulis, hidupnya bebas, sikapnya lepas dan tomboy. Sejak dulu mereka bercita-cita melancong ke Eropa. Tetapi kemudian nasib membawa hidup mereka ke rel masing-masing. Laura menikah dan punya anak bernama Luna (Amina Afiqa Ibrahim), meski sang suami Rian (Restu Sinaga, KM 97) hilang entah ke mana. Sementara itu, Marsha hidup sebatang kara karena ditinggal ibunya.

Untuk merayakan dua tahun kematian ibunya, Marsha mengajak Laura untuk mewujudkan cita-citanya. Awalnya Laura menolak. Tetapi setelah kejadian (yang menurut saya dipaksakan) tabrakan yang hampir merenggut nyawanya, Laura mengiyakan ajakan tersebut.

Mulailah petualangan dua sahabat itu. Perjalanan berjalan mulus sampai akhirnya Marsha bertemu dengan Finn (Ayal Oost) di sebuah toko. Finn yang bersedia menjadi penunjuk jalan, menumpang mobil mereka. Ternyata Finn tidaklah bisa diandalkan. Lelaki itu menunjukan rute berputar untuk mencapai tujuan. Finn pun ditendang.

Di tengah jalan, Laura dan Marsha kesasar. Mereka bertemu dengan bule-bule yang hendak menyerang. Beruntung karena Marsha bisa membela mereka berdua. Adegan ini menurut saya tidak masuk akal. Ada empat orang bule menyerang dua gadis Asia yang notabene berkaki pendek dan bertenaga lebih kecil menghadapi empat orang bule berkaki panjang dan bertenaga besar. Sangat ajaib ketika mereka bisa lari dari bule-bule itu.

Konflik petualangan yang bertebaran selalu diikuti oleh penyelesaian yang terlalu mudah. Adegan ganjil terus bermunculan sepanjang film yang berdurasi dua jam ini. Seperti Laura dan Marsha bisa menumpang mobil sebuah grup band, menemukan ruangan (atau rumah) yang tidak berpenghuni, menemukan pekerjaan menjadi pelayan untuk menghidupi masing-masing. Dan terakhir adalah Marsha mendapat sewaan motor. Ini semua sungguh ganjil kalau tidak mau disebut kebetulan yang ajaib.

Ada dua klimaks dalam film ini menurut saya, yaitu adegan dimana Laura dan Marsha bertengkar dan ending-nya. Ketika Laura dan Marsha bertengkar, argumen-argumen mereka tidak cerdas. Antara satu dialog dengan dialog lain kurang nyambung. Terlalu drama. Tapi itulah perempuan.

Dalam pertengkaran, terkuaklah rahasia Marsha yang mengidap kanker rahim sehingga harus dioperasi. Bagi sebagian perempuan, tidak bisa memiliki anak adalah kutukan. Mungkin itu juga yang menyebabkan tokoh Marsha ini digambarkan sebagai perempuan bebas namun tetap menjaga jarak, terbukti dengan tokoh ini tidak memeliki keterkaitan apapun dengan laki-laki. Tapi kemudian apa? Karena isu kanker rahim selesai sampai di situ.

Persahabatan perempuan selalu dibumbui dengan keterbukaan yang tertutup. Maksudnya adalah, perempuan seringkali menceritakan sebagian rahasianya pada sahabat tetapi sebagian lagi disembunyikan. Keterbukaan yang bersifat permukaan.

Klimaks kedua adalah terbukanya sosok Finn sebagai sahabat suami Laura. Ternyata kunci perjalanan panjang Laura adalah bule itu. Maksa. Buat saya ini sangat maksa.

Awalnya, saya melihat sebuah isu perempuan yang menarik ditampilkan film ini. Bagaimana tidak, Laura memiliki anak perempuan. Sepeninggal suaminya, Laura hidup bertiga dengan ibu dan anaknya. Keduanya adalah perempuan. Belum lagi hubungan antara Marsha dan ibunya yang begitu dekat. Hampir semua tokoh adalah lingkaran generasi perempuan.

Film ini termasuk ke dalam genre road movie yang memang kurang saya sukai. Bukan saja penonton dibawa menikmati pemandangan indah Eropa tetapi juga percarian jati diri kedua sahabat tersebut. Pengambilan gambar yang cantik dan musik yang ciamik tidak lantas membuat saya terbuai.

Akting kedua tokoh utama kebilang bagus, sayangnya tidak diikuti oleh chemistry persahabatannya. Sulit dijelaskan sebenarnya, pokoknya terlalu kaku sebagai sahabat, tidak hangat. Akting bule-bulenya juga menurut saya jelek. Tokoh Finn dan empat bule yang menyerang Laura dan Marsha misalnya. Mata mereka tidak berbicara.

Film yang digarap oleh sutaradara perempuan yaitu Dinna Jasanti (Burung Burung Kertas, 2007) dan penulis skenario Titien Wattimena (Milli & Nathan, 2011) ini entah ingin menyajikan dan membawa penonton ke mana. Kalau hanya ingin memamerkan pemandangan indah Eropa, penonton cukup melihat film dokumenter saja. Sepanjang film penuh dengan isu perempuan namun tidak juga ada yang ditawarkan selain bahwa persahabatan perempuan memang terlalu emosional. Sungguh sayang jika film panjang ini hanya menjadi sajian isu perempuan yang nanggung.

 

Starring : Prisia Nasution, Adinia Wirasti
Director : Dinna Jasanti
Screenwriter : Titien Wattimena
Producer : Leni Lolang
Genre : Drama
Length : 103 min
Release : 30 Mei 2013
Produksi : Inno Maleo Film

Author: Evi Sri Rezeki

i'm not just a complicated person but more than that, i'm a fantasy person | Writer | @indnesiancreate Owner - Videography, Photography & Event Management | Blogger : http://myfairytalemytale.blogspot.com/

  • Lia

    Perfect. I’m not gonna spend my time for this kind of movie

  • DhaniPrima

    Sebenarnya isu perempuan yang boleh dibilang agak “sexist” di Laura Marsha menarik sih. Di film ini seluruh karakter prianya digambarkan “brutal”, pembohong, meninggalkan tanpa kabar, menuruti nafsu (pemerkosa). Namun pas akhir cerita, pembuat filmnya jadi kaya mengkhianati pesan yang dia angkat tadi.