Review: Killers (2014)

Categories ReviewsPosted on
Featured Video Play Icon

“Man is the most dangerous animal of all”,

tulis Richard Connell dalam The Most Dangerous Game yang saya curi kutip dari film Zodiac (2007). Kebetulan sekali, film tersebut saya tonton tepat sehari sebelum menonton film Killers (2014) dari Mo Brothers (Kimo Stamboel, Timo Tjahjanto). Tenang, kita tidak akan memperbandingkan antara dua film tersebut karena memang tidak ada yang perlu diperbandingkan. Saya cuma tergelitik tentang pesan dua film tersebut tentang bagaimana kekerasan, seseram apapun itu, selalu bisa menjadi magnet bagi manusia.

Si pembunuh berantai dalam Zodiac benar ada di dunia nyata. Zodiac Killer, begitu dia ingin disebut, mengirim surat tersandi kepada media dengan tujuan untuk membuatnya tenar. Herannya, masyarakat tertarik dengan pembunuh berantai ini dan seakan memberi tempat untuknya menjadi pesohor. Kisah Zodiac Killer juga telah banyak menjadi inspirasi dalam berbagai versi budaya populer termasuk diantaranya beberapa judul film.

Killers tentu saja fiksi, namun seperti Zodiac Killer, pembunuh dalam film ini diceritakan juga ingin dikenal “mahakarya”-nya. Berbekal topeng untuk menyamarkan identitas asli, Nomura Shuhei (Kazuki Kitamura) mengunggah video pembunuhan yang dilakukannya ke internet untuk ditonton jutaan orang termasuk termasuk diantaranya Bayu Aditya (Oka Antara). Hidup Bayu yang kacau-balau, karir dan keluarga, butuh pelampiasan. Menonton adegan pembunuhan di layanan video streaming sepertinya salah satu wujud pelampiasan tersebut. Bentuk pelepasan yang lambat-lambat mentransformasi Bayu menjadi monster yang sama dengan apa yang dia tonton.

Binatang Manusia
Bukankah menarik mengetahui bahwa dalam bentuk dasarnya, setelah akal dan nilai moral dilucuti, manusia hanyalah mamalia. Kita hidup dengan cara “berburu” dalam belantara beton yang menjulang tinggi dan dingin. Sebuah kompetisi yang terkadang melahirkan kekerasan dalam bentuk kasat ataupun halus. Insting dasar inilah yang coba digali dan dimainkan Mo Brothers pada dua karakter utama yang kita tonton.

Dua karakter utama kita ini memang “binatang”. Nomura adalah serigala kesepian yang mengintai mangsanya diam-diam kemudian menikmati buruannya pelan-pelan. Dia punya moralitas yang dibentuk sendiri: “yang kuat akan mendapatkan semua sedangkan yang lemah semua miliknya akan diambil termasuk yang disayangi”. Bayu disatu sisi adalah karakter dengan moral yang “lurus”. Seorang kepala keluarga yang tidak melepaskan tanggung jawab sebagai suami dan ayah meski hidup terpisah. Moral yang dianutnya mulai runtuh saat tekanan hidup memaksa Bayu mengeluarkan insting primalnya sebagai mamalia. Persoalannya sekarang adalah seberapa kuat Bayu bertahan sebelum menyerah kalah mengikuti insting tersebut.

Tim Bayu vs Tim Nomura
Saya termasuk orang yang lebih percaya kalau film ini bukan film dengan dua protagonis. Ada dua orang pembunuh memang yang akan kita saksikan “pertunjukkan” mereka secara selang-seling dalam film Killers. Tetap saja, Bayu adalah protagonis kita. Nomura hanyalah katalis dari perkembangan karakter yang dialami Bayu. Menariknya adalah kenapa katalisator ini terasa lebih mendominasi?

Saya pikir bukan masalah porsi cerita siapa yang lebih banyak. Juga bukan soal ketampanan siapa melebihi siapa atau akting siapa yang jauh lebih mumpuni. Dua karakter ini memang sengaja didesain berbeda. Nomura dengan segala kharismanya, Bayu dengan segala kenaifannya.

Referensi kita tentang pembunuh sudah terbentuk jauh sebelum film Killers memulai adegan pertamanya. Budaya populer, termasuk film, banyak menampilkan kekerasan menjadi sesuatu yang tampak keren dan lumrah. Pola pikir kita sudah terbentuk saat melihat James Bond, Hit Girl, dan teman-teman membunuh lawan-lawannya dengan “stylish” atau saat Dexter menusuk-nusuk korbannya dengan muka lempeng.

Begitu juga yang kita lihat pada karakter Nomura. Tidak sulit untuk “jatuh cinta” saat melihat dinginnya Nomura menghabisi korbannya (A++ untuk adegan pembunuhan dalam toilet klub yang dirangkai sangat apik). Ditambah lagi, kita diberi kesempatan lebih untuk mengenal Nomura melalui pendekatan yang sifatnya show than tell. Dari adegan pembuka kita bisa mengetahui bahwa Nomura ini gila. Tidak ada orang waras yang habis bercinta lalu memburu pasangannya tersebut untuk kemudian dihabisi. Tapi berkat pengenalan bahwa karakter ini gila, kita tidak perlu lebih jauh lagi untuk mencari alasan kegilaan tersebut seperti yang tersaji dalam beberapa adegan kilas balik dan mimpi. Apakah karena orang tuanya yang kasar? Cinta incest dengan kakak perempuannya? Kita boleh menyimpulkan sendiri namun tetap dalam ikatan pemikiran bahwa karakter ini gila. Pendekatan show than tell mengajak kita mengalami pengalaman Nomura sehingga investasi emosi kita pada karakter ini lebih banyak.

Sementara itu, disisi yang berseberangan, ada sedikit jarak antara Bayu dengan kita. Adegan Bayu memang didesain untuk tidak keren. Sehingga saat melihat Bayu yang terguncang hebat setelah melakukan pembunuhan pertamanya yang tidak terencana, kita sebagai penonton melihat sesuatu yang asing dari apa yang biasa ditonton dalam film. Bahkan ada kecenderungan untuk menganggap aneh/lucu hal tersebut.

Jarak tersebut diperlebar setelah dalam perkembangan selanjutnya kita tidak diberi kesempatan yang cukup untuk mengalami kejadian seperti apa yang membuat karir Bayu berantakan. Cerita film lebih sibuk untuk menampilkan drama hubungan Bayu dengan istri dan putrinya. Siapa politikus yang sangat Bayu benci? Kasus seperti apa yang melibatkan politikus tersebut yang kemudian membuat hidup si jurnalis berantakan? Kenapa dia serius sekali dengan kasus tersebut sehingga harus membuatnya memburu mereka? Pertanyaan-pertanyaan ini dijawab melalui pendekatan yang samar. Kalau saja kegelisahan Bayu terhadap ambisinya pada politikus itu hanya sempilan sepertinya tidak akan menjadi masalah. Sayangnya, elemen tersebut menjadi salah satu komponen penting yang membentuk transformasi karakter Bayu. Hal ini membuat karakter Bayu semakin menjauh dari simpati dan menjadikan kita tidak terlalu peduli terhadap apa yang dia alami.

Jalinan “kisah cinta” antara dua karakter ini pun sebenarnya hambar. Saat sekuen silih berganti, dua pembunuh ini lebih sibuk membahas aktivitas masing-masing secara individual. Ikatan antara keduanya lebih sering terabaikan dan tidak menambah kedalaman cerita. Hasilnya, motivasi karakter kembali samar saat Nomura memutuskan bertemu Bayu di dunia nyata.

Tema besar tentang hubungan perilaku masyarakat dan kekerasan dalam film Killers ini sangat menarik. Kita melihat bagaimana Bayu terkontaminasi terhadap kekerasan yang dia tonton. Hal tersebut bisa diproyeksikan dalam kehidupan nyata. Kekerasan tidak melulu soal wanita yang disekap dengan tutup kepala plastik kemudian dihantam martil berkali-kali hingga mengakibatkan bekas luka menganga. Kekerasan bisa juga saat kita berbondong-bondong merekam peristiwa pemukulan, kerusuhan, atau sekedar kecelakaan lalu lintas lalu mengunggahnya di media sosial. Bisa juga saat kita tertawa lebar menyaksikan orang-orang dilumuri tepung atau didorong sengaja hingga jatuh jumpalitan di televisi. Hal-hal seperti inilah yang akan membuat kita berpikir bahwa manusia adalah makhluk yang dalam sisi tergelapnya menikmati kekerasan. “Inside us lives a Killer” begitu tagline film Killers.

Sisi terangnya, kita masih punya pilihan untuk bisa mengendalikan sifat brutal mamalia tersebut. Pilihan yang dikendalikan oleh pikiran sehat dan nurani. Seperti pilihan yang dibuat oleh Bayu dalam adegan penutup. Pesan yang lagi-lagi samar untuk ditangkap namun menimbulkan bekas luka yang dalam jika mau usaha lebih keras mengejar maknanya.

 

Cast: Oka Antara, Luna Maya, Kazuki Kitamura, Rin Takanashi
Director: Kimo Stamboel, Timo Tjahjanto
Screenwriter: Takuji Ushiyama, Timo Tjahjanto
Producer: Yoshinori Chiba, Shinjiro Nishimura, Takuji Ushiyama, Timo Tjahjanto, Kimo Stamboel
Genre: Action, Thriller
Length: 137 min
Release: 6 Februari 2014
Produksi: Guerilla Merah Films, PT Merantau Films, Nikkatsu

Author: dhani.prima

tukang nonton casual, desainer grafis, dan ilustrator. Star Wars saga, Lord of the Ring trilogy, Forrest Gump, Band of Brothers, Game of Thrones. Ho oh layar lebar, layar kaca sama asiknya kok :p.