Review: The Hobbit: The Battle of the Five Armies (2014)

Categories ReviewsPosted on
Featured Video Play Icon

Saya menonton The Hobbit: The Battle of the Five Armies dalam keadaan buta. Bukan, bukan sedang cari sensasi ala pesulap televisi. Maksudnya begini, saya sama sekali belum pernah membaca karya literasi J. R. R. Tolkien ini ditambah hanya sekali menonton dua film pendahulu, itupun setahun yang lewat. Lalu apa pentingnya info itu?

Saya perlu menyebutkannya karena punya pengalaman berbeda sebelum dan sesudah mengunjungi kembali Middle-Earth. Saat menonton trilogi terbaru, The Hobbit: The Battle of Five Armies, saya berpikir keras untuk mengingat kembali soal ini siapa, kenapa dia begitu, kok begini bisa begitu. Demi memenuhi hasrat perfeksionisme, saya memutuskan untuk menonton kembali dua seri sebelumnya dari The Hobbit. Potongan puzzle menjadi lengkap. Saya akhirnya punya pengalaman utuh soal The Hobbit: The Battle of the Five Armies.

Sulit untuk menonton The Hobbit: The Battle of the Five Armies sebagai sebuah film yang berdiri sendiri. Masalahnya mungkin bermula saat keseluruhan trilogi mencoba memanjang-manjangkan diri. Peter Jackson sepertinya lupa filosofi tali cawat: semakin ditarik, semakin melar, semakin tidak fungsional. Novel The Hobbit setebal kurang lebih 300 halaman dibuat melar menjadi trilogi berdurasi rata-rata 2,5 jam. Bukan salah Peter Jackson juga sih. Sutradara ini disandera petinggi studio yang mengidap “Dragon Sickness”, penyakit kemaruk yang juga diidap Thorin Oakenshield (Richard Armitage).

Jadi, bagaimana cara Peter Jackson mengakali materi adaptasi yang minim dengan tuntutan durasi panjang tersebut?

Pada trilogi pembuka Peter melakukan beberapa repetisi. Sekuen pembuka An Unexpected Journey diulang sampai tiga kali dengan tujuan yang sebenarnya sama. Bilbo tua (Ian Holm) bercerita tentang latar belakang hubungan tidak harmonis para Dwarf dengan Smaug (Benedict Cumberbatch), kemudian dibuka lagi dengan beberapa adegan Bilbo-Frodo (Elijah Wood) yang berhubungan dengan saga Lord of the Rings, lalu dibuka lagi dengan Bilbo muda (Martin Freeman) saat bertemu Gandalf (Ian McKellen) pertama kali. Sisa durasi film diisi dengan sekuen berpola mirip: Bilbo dan para Dwarf tertangkap, Gandalf to the rescue.

Peter Jackson mengakali tuntutan durasi dengan cara berbeda pada trilogi pertengahan. Beberapa karakter dimunculkan sehingga film menjadi riuh. Pertanyaan yang mungkin muncul adalah: Lord of the Rings juga penuh dengan karakter loh, kenapa ga’ menjadi masalah? Alasannya adalah karena jibunan karakter dalam Lord of the Rings punya tujuan jelas yang mampu membuat cerita utama bergerak melalui sub-cerita masing-masing. Perjalanan Frodo menuju Mordor adalah jumlah dari perjalanan-perjalanan kecil yang dialami Aragorn, Gandalf, Merry, Pippin, dan beberapa karakter lain. Desolation of Smaug punya tambahan karakter dan sub-cerita namun tidak berpengaruh terhadap cerita utama. ‘Legolas Origins’ dan kisah cinta segitiga antara Legolas-Tauriel-Kili (Orlando Bloom-Evangeline Lilly-Aidan Turner) hanya berfungsi menambah tekstur romansa. Apakah kisah romansa tersebut berpengaruh terhadap petualangan Bilbo? Membuat Smaug terharu-biru mendengar kisah cinta mereka? Tidak sama sekali. Lucunya, Tauriel-Kili bisa saja menjadi Tauriel-Bombur, Taurel-Fili, Taurel-Dwalin, Tauriel-Dwarf-manapun-silahkan-sisipkan-disini. Hanya saja mungkin kebetulan Kili adalah yang paling rupawan, jadilah dia yang dipilih sebagai pasangan Tauriel. Lagi-lagi pemilihan tersebut hanya soal tekstur. Dwarf yang berjumlah banyak tidak ada yang benar terkarakterisasi dengan baik selain Thorin.

Trilogi penutup, lebih seperti ekstensi dari seri pertengahan yang durasinya sudah terlewat panjang. Agar tidak terlalu pendek, Peter menambah jatah layar karakter yang sebenarnya lagi-lagi tidak berpengaruh banyak pada cerita utama. Alfrid Lickspittle (Ryan Gage), penasehat Penguasa Laketown adalah karakter minor. Peter Jackson memutuskan untuk menambah jatah tampil karakter ini sehingga jatah tampil Bilbo sebagai karakter utama terasa sedikit berkurang. Pesan Peter Jackson melalui karakter ini sebenarnya jelas, tamak adalah hal yang jelek. Namun, bukankah pesan itu sudah coba disampaikan melalui karakter Thorin Oakenshield?

Sampai paragraf ini mungkin kamu bertanya Bukankah ini review dari The Hobbit: The Battle of Five Armies? Kenapa harus repot membahas dua seri sebelumnya? Kenapa tidak membahas soal panah Bard the Bowman (Luke Evans) yang menembus dada Smaug? atau riuhnya perang antar lima pasukan? — yang saya sendiri juga masih bingung menghitung jumlah pasukan ini, apakah Kelelawar dan Elang dihitung sebagai sebuah satuan pasukan?

Jadi begini, alasannya sudah saya singgung sedikit dalam dua paragraf awal. Menonton The Hobbit: The Battle of Five Armies sebagai satu film membuatnya menjadi film yang punya esensi sedikit. Perang yang terjadi walaupun mewah secara tekstur (detail pasukan, kostum, baju zirah, senjata, koreografi pertarungan) namun minim urgensi. Kurang greget, meminjam istilah Mad Dog. Pengalaman berbeda terjadi saat saya menonton keseluruhan seri The Hobbit secara marathon. Karakter, cerita, koneksi-koneksi dengan saga Lord of The Rings, yang walaupun nanggung dan tidak fokus, terasa masih punya esensi.

Saya akan betah berlama-lama di depan layar saat terikat secara emosional dengan karakter yang ada dalam cerita. Trilogi The Hobbit, terutama seri penutup, menurut pendapat saya tidak punya kekuatan itu. Sayang sekali mengingat saya benar-benar ingin The Hobbit: The Battle of Five Armies menjadi salam perpisahan yang akan terus diingat dan dibicarakan. Kasihan Peter Jackson, terjebak antara materi adaptasi yang terbatas dan keharusan untuk meraih laba sebanyak mungkin.

“If people valued food, song, and home more than gold, the world would be a merrier place”, pesan Thorin kepada Bilbo yang entah kenapa terasa seperti curhat colongan Peter Jackson tentang pembesar studio yang mempekerjakannya.

 

Starring: Martin Freeman, Richard Armitage, Ian McKellen, Orlando Bloom, Evangeline Lilly, Benedict Cumberbatch, Lee Pace, Luke Evans, Ryan Gage, Manu Bennett, Ian Holm
Director: Peter Jackson
Screenwriter: Fran Walsh, Philippa Boyens, Peter Jackson, Guillermo del Toro
Producer: Philippa Boyens, Carolynne Cunningham, Peter Jackson, Fran Walsh, Zane Weiner
Studio: New Line Cinema, Metro-Goldwyn-Mayer (MGM), WingNut Films
Genre: Petualangan, Fantasi
Length: 144 min
Release: 18 Desember 2014 (INA)
Tagline: “Witness the defining chapter of the Middle-Earth saga”

Author: dhani.prima

tukang nonton casual, desainer grafis, dan ilustrator. Star Wars saga, Lord of the Ring trilogy, Forrest Gump, Band of Brothers, Game of Thrones. Ho oh layar lebar, layar kaca sama asiknya kok :p.

  • Ani

    Lebih suka yang ke-tiga ini sih daripada dua yang sebelumnya. 😀

    • DhaniPrima

      Halo Ani, terima kasih sudah membaca dan berbagi pendapat 😀
      Oh ya, boleh detail lagi kenapa lebih suka yang ketiga ini?

  • anjar.gumie

    yup. melaaarrr.

    • DhaniPrima

      kaya Bombur XD