Review: Azrax Melawan Sindikat Perdagangan Wanita (2013)

Categories ReviewsPosted on
Featured Video Play Icon

Aa Azrax (Gatot Brajamusti) membuktikan bahwa kalau mau narsis jangan pernah tanggung-tanggung. Tidak seperti alay yang hanya bisa narsis lewat sosial media dengan tentu saja akan buang-buang kredit pulsa saat mengunggah foto, Aa punya pemikiran yang lebih produktif. Bagaimana kenarsisan tersebut dibuat menjadi sebuah film layar lebar yang fenomenal sehingga tentu saja akan menarik recehan dari kantong penonton. Pemikiran yang pintar bukan?

Aa Azrax tidak cuma pintar. Tokoh ini merupakan karakter yang boleh dibilang pengejawantahan dari suami idaman mertua. Pertama, jangan pernah mempertanyakan soal kesalehannya. Aa Azrax merupakan pimpinan pondok pesantren di desa dia berdiam. Bijaksana dalam pemikiran, santun dalam ucapan, penuh wejangan dalam tindakan. Kedua, sebagai pria idaman, Aa ini hartawan yang dermawan. Jangan pernah segan minta pertolongan pada Aa disaat benar-benar sedang kekurangan. Dapur tidak bisa lagi berasap karena kebutuhan pokok mulai habis? Aa punya ransum sembako yang siap dibagikan. Uang sekolah anak harus segera dilunasi? Aa siap membayari. Ketiga, ini juga seharusnya wajib dimiliki sebagai pria idaman mertua, Aa ahli bela diri. Pertarungan tangan kosong? Tidak usah diragukan. Pertarungan menggunakan senjata api? Terlalu mainstream. Aa punya lampu taman sebagai senjata darurat. Ini juga harus dipercaya, karena tidak ada yang tidak mungkin bagi Aa.

Aa Azrax dibalik kebijaksanaannya ternyata juga bukan orang yang terlalu serius. “Easy man” merupakan mantra penenang saat Ricky (Mario Irwinsyah), aktivis LSM, mengetahui kekasihnya Fanny (Nadine Chandrawinata) berbuat nekat dengan menyamar sebagai tenaga kerja ilegal untuk menyelidiki kasus perdagangan wanita. Mantra yang sama juga mujarab untuk meredam amarah Budi (Yama Carlos) yang meledak-ledak saat menyelidiki kepergian keponakannya (atau mungkin adiknya?) bersama sindikat perdagangan wanita berkedok jasa penyaluran tenaga kerja.

Aa Azrax memberi sebuah wejangan yang menarik pada pertengahan cerita. “Setiap orang punya pilihan sendiri dalam hidupnya”, kurang lebih begitu. Hal tersebut mengingatkan akan opini bahwa hanya ada dua pilihan bagi pembuat film untuk menjadi bahan perbincangan khalayak. Pertama buatlah film yang luar biasa bagusnya atau kedua buatlah film yang luar biasa jeleknya. Azrax Melawan Sindikat Perdagangan Wanita menampilkan sebuah kejujuran pada pilihan kedua. Pembuat film tidak perlu merasa pura-pura pintar agar bisa diterima. Mereka hanya menampilkan apa yang seharusnya ditampilkan yaitu kenarsisan akut sang produser yang sepertinya tidak malu-malu menunjukkan apa yang dia punya. Soal pesan tentang nasib mereka yang menjadi korban perdagangan wanita? Sayang sekali nilai mulia tersebut harus tenggelam saat penonton lebih “terpesona” dalam riuhnya penampilan sang jagoan utama…

Aa Azrax the Man.

 

Cast : Gatot Brajamusti, Yama Carlos, Mario Irwinsyah, Nadine Chandrawinata
Director : Dedi Setiadi
Screenwriter : Didi Surya
Producer : Gatot Brajamusti
Genre : Action, Drama
Length : 108 min
Release : 5 September 2013
Produksi : Gatot Brajamusti Film

Author: dhani.prima

tukang nonton casual, desainer grafis, dan ilustrator. Star Wars saga, Lord of the Ring trilogy, Forrest Gump, Band of Brothers, Game of Thrones. Ho oh layar lebar, layar kaca sama asiknya kok :p.