Rupa Film Bioskop Indonesia Rentang Tahun 2007-2012 Melalui Bingkai Poster Film Karya MichaelTju

Categories GrafisPosted on

Melihat karya poster film MichaelTju seperti melihat tema film bioskop Indonesia pada 2007-2012.

Dwi fungsi poster film adalah sebagai karya seni sekaligus penyampai pesan. Meniadakan informasi menjadikan poster film sebagai seni yang bersifat subjektif. Sebaliknya, berat pada informasi saja membuat poster film hilang daya pikat. Interaksi daya pikat dan resensi singkat membuat idiom “Don’t judge a book by its cover”, atau dalam hubungannya dengan artikel ini “don’t judge a film by its poster”, bagi saya pribadi tidak sepenuhnya berlaku. Meski banyak elemen pendorong lain, poster film tetap menjadi penggerak awal untuk menonton sebuah film. “Membaca” poster film punya dampak lebih kuat dari sekedar membaca tulisan sinopsis.

Kumpulan poster film dalam rentang masa tertentu bisa menjadi refleksi terhadap tren atau nilai-nilai yang berlaku pada masa tersebut. Pada era pendahulu, poster film didominasi media dengan teknik pengerjaan manual. Hal tersebut sebagai indikasi keterbatasan teknologi dan media kala itu. Mayoritas penyampaian pesan pada poster film era pendahulu ini bersifat tekstual, memindahkan cuplikan adegan menarik di dalam film ke dalam media poster. Saat teknologi komputer mulai mengambil kendali, fotografi dan olahan digital menjadi teknik utama dalam pengerjaan poster film. Penyampaian pesan pada era modern ini mulai berganti ke arah menjadi konseptual, gabungan bentuk dan kesan yang memunyai makna. Tuntutan pengerjaan masing-masing era juga berbeda. Pada era pendahulu, produksi film tidak menuntut pergerakan yang terlalu cepat. Pelukis poster film menjadi pilihan utama karena keahliannya bukan karena kecepatan produksinya. Saat semua dituntut serba cepat seperti sekarang, teknik digital dirasa sebagai solusi paling tepat dan hemat. Kalau era pendahulu punya pelukis poster atau spanduk film seperti Ahmad Ridwan Tanjung, Tirtajaya, dan Pak Dadi, era sekarang punya MichaelTju.

MichaelTju, sebagaimana dijelaskan di laman profil mereka, adalah tim kreatif dalam bidang branding dan design. Kebanyakan portfolio MichaelTju berupa digital imaging dengan klien mayoritas berasal dari rumah produksi film. Tidak mengherankan jika kebanyakan poster film bioskop di Indonesia dirancang oleh MichaelTju. Melihat karya poster film MichaelTju pada rentang tahun 2007 hingga 2012 seperti melihat tema film bioskop Indonesia dalam rentang waktu tersebut. Tampilannya hampir seragam secara visual. Secara tema, begitu-begitu saja. Namun dari beberapa poster yang serupa tapi tak sama tersebut, terselip beberapa poster lain yang terlihat punya gaya berbeda.

Beda rumah produksi, beda rasa. Secara garis besar, ada dua golongan tema poster film Indonesia pada era 2007-2012.

“Berisik-Rupa-Rupa”

Melihat keriuhan beberapa poster karya MichaelTju dibawah menggambarkan betapa riuh dan seragamnya film bioskop Indonesia rentang masa 2007-2012. Tumpukan karakter seperti adu-aduan tampil dengan judul, susunan nama-nama pameran, tagline, serta elemen visual lain. Keriuhan diperkuat dengan paduan warna-warna panas dan kontras. Keriuhan ini senada dengan isi film: candaan slapstick, kutipan-kutipan ceramah panjang, celetukan-celetukan yang tidak menambah arti penting cerita, dan sejenisnya. Tema serupa tapi tak sama ini seperti menunjukkan kemalasan eksplorasi dari pembuat film. Asumsi dari rumah produksi/studio film adalah saat satu tema film laris maka harus muncul judul lain bertema serupa dengan harapan akan laris atau melebihi film pendahulu.

MichaelTju Poster 01

MichaelTju Poster 02

MichaelTju Poster 03

“Senyap-Rupa-Rupa”

Kontras dengan susunan poster film sebelumnya, kumpulan poster dibawah terlihat lebih berkarakter. Hierarki visual terlihat lebih jelas. Ada susunan alur lihat dan ruang istirahat bagi mata. Tema poster juga lebih beragam. Ada eksplorasi tema. Namun, dalam beberapa poster, eksplorasi terlihat lepas dari konteks filmnya. Sebagai contoh bisa dilihat pada variasi poster film Rumah di Seribu Ombak. Salah satu variasi poster sepertinya ditujukan untuk penonton luar negeri. Elemen visual dibuat sedemikian rupa menyesuaikan pasar yang dituju. Namun, gaya dan elemen visual dalam variasi poster film Rumah di Seribu Ombak ini seperti menjauh dari tone filmnya sendiri. Penggunaan ilustrasi bergaya monoline dan huruf handwritten pada variasi poster tersebut mengingatkan akan film drama/komedi indie seperti Napoleon Dynamite, Juno, atau film-film karya Wes Anderson. Film-film tersebut biasanya punya tone komikal, tengil, dan aneh.  Gaya yang sepertinya berbeda dengan film Rumah di Seribu Ombak. Perlu digaris bawahi kata seperti karena saya sendiri belum menonton film Rumah di Seribu Ombak. Penilaian saya berasal dari pengamatan melalui beberapa trailernya.

MichaelTju Poster 05 MichaelTju Poster 06MichaelTju Poster 07

“Kepribadian ganda” poster-poster karya MichaelTju menunjukkan dua kutub rupa film Indonesia rentang masa 2007-2012. Dua kutub tersebut sepertinya dipengaruhi selera masing-masing rumah produksi: mereka yang bekerja berdasarkan kepentingan laba dan mereka yang bekerja berdasarkan kepentingan idealisme sebuah film. Membuat film butuh dana dan laba. Itu benar. Namun menjadi penyampai pesan dan produk kebudayaan juga penting. Beberapa judul film Indonesia sudah mampu menyeimbangkan dua hal penting tersebut. Pertanda bagus bagi film Indonesia kedepan.

Author: dhani.prima

tukang nonton casual, desainer grafis, dan ilustrator. Star Wars saga, Lord of the Ring trilogy, Forrest Gump, Band of Brothers, Game of Thrones. Ho oh layar lebar, layar kaca sama asiknya kok :p.