Kenapa Superhero Berdarah Asia Sedikit Sekali?

Categories SuperheroPosted on

Ms. Marvel muncul dalam dunia alternatif sebagai Kamala Khan, remaja muslimah keturunan Pakistan. Cindy Moon, keturunan Asia-Amerika, berjumpalitan di Kota New York sebagai Silk, semacam versi alternatif dari Spider-Man. Ryan Choi katanya akan kembali dihidupkan sebagai The Atom. Timbul pertanyaan: Mana superhero berdarah Asia lainnya?

Kamala Khan, Cindy Moon, Ryan Choi

Stereotipe yang sering ditempelkan pada karakter-karakter berdarah Asia dalam dunia superhero (DC dan Marvel) adalah science nerd, bullyable geek, atau supervillain. “Jabatan” paling tinggi yang bisa ditempati karakter berdarah Asia hanya sebagai superhero “level B” atau sekedar sidekick.

Sebagian besar komik memang ditulis oleh pria kulit putih. Lekatnya stereotipe tentang Asia juga tak bisa lepas dari cara pandang terhadap dunia yang jauh dari keseharian mereka. Sudut pandang yang kadang bermuatan sosial politis.

Komik superhero pada awal perkembangannya memang tak lepas dari misi sosial politis. The Action Comic, komik yang pertama kali memperkenalkan Superman sebagai superhero pada tahun 1938, muncul sebagai kritik terhadap kehidupan sosial politik Amerika Serikat saat mengalami The Great Depression. Tidak ada alien atau supervillain. Superman bertarung melawan suami abusif, pelecehan terhadap wanita, dan pemerintahan yang korup.

Beberapa tahun sesudahnya, Perang Dunia II merebak. Dunia superhero ikut ambil bagian. Superman, Captain America, dan superhero lainnya menjalani misi propaganda sebagai agen patriot pemerintah. Misi yang bertolak belakang saat awal mereka dikenalkan.

Superman dan cuma-mirip-Hitler

Kemudian Amerika Serikat memiliki presiden keturunan Afrika-Amerika pertama mereka. Feminisme, persamaan gender, dan keberagaman menguat di negeri tersebut. Perkembangan sosial politis ini juga turut menjadi inspirasi bagi dunia komik. Beberapa waktu belakangan muncul versi-versi alternatif dari superhero kenamaan lintas ras dan gender.

Miles Morales

Perubahan yang dilakukan DC dan Marvel dalam dunia komik merupakan hal bagus. Tapi perubahan ini lebih terasa seperti jalan pintas. Alih-alih menciptakan karakter superhero baru dengan identitas dan latar belakang yang kuat, Marvel lebih memilih “mentransfer” ras/gender pada superhero popular dengan ras/gender berbeda. Hasilnya, karakter baru ini lebih seperti bayang-bayang dari karakter utama. Perubahan yang sebenarnya tidak progresif dan cenderung sementara.

Biar imbang, mari melihat dunia selain DC dan Marvel. Pernah mendengar karakter superhero bernama The Green Turtle?

Karakter superhero ini sebenarnya sudah hadir sejak era awal komik superhero tahun 40-an. Diciptakan oleh seniman komik keturunan Cina-Amerika bernama Chu Hing. Namun kondisi perang melawan kekuatan poros Jerman-Italia-Jepang “mengharamkan” karakter “kulit kuning” muncul sebagai seorang pahlawan. Tuntutan sosial politis ini membuat The Green Turtle harus menyembunyikan identitas aslinya. Panel komik The Green Turtle digambar samar, tertutup oleh bayangan topeng, jubah, dan komposisi yang menghalangi pembaca untuk melihat wujud aslinya.

Panel komik klasik The Green Turtle

Tahun 2014, The Green Turtle dihidupkan kembali. Karakter ini diberi alter ego yang jelas sebagai pria keturunan Cina-Amerika bernama Hank Chu. The Green Turtle bisa menjadi penambah khazanah karakter superhero berdarah Asia dalam dunia komik.

The Green Turtle versi modern

Butuh waktu lama bagi The Green Turtle untuk mencapai level seperti superhero popular. Mungkin butuh waktu lama juga hingga muncul karakter-karakter bernama Bruce Wang atau Peter Park. Mungkin masih akan sangat lama juga untuk menunggu trio Chris (Hemsworth, Evan, Pratt) dalam cinematic universe Marvel diganti dengan nama-nama seperti Lee, Khan, atau bahkan Iko.

Atau, biar cepat, DC atau Marvel sepertinya perlu lebih melibatkan pembuat konten dari Asia. Tidak hanya memandang Asia hanya sebagai lapak jualan.

Author: dhani.prima

tukang nonton casual, desainer grafis, dan ilustrator. Star Wars saga, Lord of the Ring trilogy, Forrest Gump, Band of Brothers, Game of Thrones. Ho oh layar lebar, layar kaca sama asiknya kok :p.