Kantong Ajaib, Wormhole, dan Ruang 4 Dimensi

Categories SciTechPosted on

“It is true that we have really in Flatland a Third unrecognized Dimension called `height,’ just as it is also true that you have really in Spaceland a Fourth unrecognized Dimension, called by no name at present, but which I will call `extra-height’.”

– Edwin Abbott Abbott, in his book “Flatland: A Romance of Many Dimensions” (1884)

Selama ini, kita hanya mengenal dunia ruang dalam 3 dimensi: panjang, lebar, dan tinggi. Ketika kita mendengar istilah dunia 4 dimensi, biasanya kita mengacu pada dimensi ruang-waktu seperti yang dijabarkan Einstein: 3 dimensi ruang + 1 dimensi waktu. Membayangkan ruangan berdimensi 4, bukan memperhitungkan dimensi waktu, akan tidak terbayangkan. Seperti halnya makhluk hipotetis Flatlander dari dunia 2 dimensi yang tidak bisa memahami dunia 3 dimensi yang kita kenal.

Namun, apakah dunia 4 dimensi memang ada? Beberapa ilmuwan mengatakan ya, ada. Bahkan lebih lanjut, mereka mengatakan bahwa dunia kita pun sebenarnya adalah dunia 4 dimensi. Buktinya? Meskipun belum komprehensif, namun ada 1 fenomena yang dapat dijadikan petunjuk: wormhole.

Bagi yang belum pernah mendengarnya, wormhole adalah sebuah benda yang diduga dapat menjadi jalan pintas antara 2 tempat yang berjauhan. Dikatakan ‘diduga’, karena selama ini belum pernah ditemukan wormhole yang terbentuk secara alami di alam semesta atau dibuat oleh para ilmuwan.

Namun fenomena ini, secara teoretis, sudah dibuktikan memungkinkan oleh para ilmuwan sekaliber Einstein dan Kip Thorne. Nama terakhir merupakan ilmuwan yang menjadi konsultan ilmiah pada film Interstellar (2014), yang notabene menggunakan wormhole sebagai salah satu bagian penting ceritanya.

Nah, apakah bukti dari eksistensi dunia 4 dimensi dengan wormhole? Dalam analogi yang sering dipakai (bahkan dipakai di film Event Horizon (1997) dan Interstellar): andaikan ada 2 titik pada sebuah kertas (atau bidang 2 dimensi, seperti dunia Flatland) yang berjauhan, maka wormhole diibaratkan sebagai lubang 2 dimensi yang terbentuk untuk menghubungkan 2 titik tersebut. Wormhole melipat kertas agar kedua titik tersebut saling menempel sehingga kertas tadi menjadi benda 3 dimensi. Dengan analogi tersebut, maka kita dapat menjelaskan cara kerja wormhole yang sebenarnya: andaikan ada 2 tempat di dunia nyata (atau dunia 3 dimensi yang kita kenal) letaknya berjauhan, maka wormhole akan berfungsi sebagai lubang 3 dimensi yang terbentuk untuk menghubungkan 2 tempat tersebut. Wormhole melipat dunia kita agar kedua tempat tadi saling menempel sehingga dunia kita menjadi benda 4 dimensi.

image source: http://modernnotion.com/science-behind-interstellar-wormholes-work/

Phew. Rasanya cukup dengan penjelasan ilmiahnya. Sekarang akan kita lihat aplikasi lain dari ide ruangan 4 dimensi dalam budaya populer: “magic satchel”. Magic satchel merupakan istilah untuk benda semacam kantong ajaib seperti kepunyaan Doraemon dan Deadpool (atau dalam kasusnya Dora, ransel) yang dapat menyimpan sejumlah barang yang jauh melebihi kapasitas wajarnya. Magic satchel pun ternyata dapat dijelaskan melalui teori ruang 4 dimensi serupa dengan analogi wormhole. Jadi, andaikan ada benda 3 dimensi, ambil contoh sebuah bola, yang dapat beririsan dengan bidang 2 dimensi milik Flatland, maka hanya irisannya saja yang akan muncul di Flatland tadi. Bentuknya bisa berupa titik, lingkaran kecil, atau lingkaran besar. Sama halnya dengan magic satchel: magic satchel sebenarnya merupakan benda 4 dimensi yang beririsan dengan dunia 3 dimensi yang biasa kita jumpai, namun hanya irisannya saja yang akan muncul di dunia kita.

Jadi, kalau sebenarnya dunia kita merupakan dunia 4 dimensi, kenapa kita tak pernah menyadarinya? Seorang ilmuwan bernama Claus Meyer-Bothling, dalam artikelnya yang berjudul “Thinking the Unthinkable – Understanding 4 Dimensions”, mengatakan bahwa hal ini mungkin diakibatkan karena dalam kegiatan sehari-hari kita sudah merasa cukup dengan penglihatan 3 dimensi, sehingga mata kita “membuang” bakat kita untuk melihat benda-benda 4 dimensi.

Percaya atau gak, gue kembalikan kepada kalian untuk merenunginya sejenak.. 🙂

Reza Firmansyah

Author: Reza Firmansyah

Mathematician. Doyan film dan musik sejak balita. Calon scriptwriter. Punya 3 'pahlawan' di dunia perfilman: Stanley Kubrick, James Cameron, dan Christopher Nolan.