Film Adaptasi Video Game: Sebuah Analisa Singkat

Categories FandomPosted on

Video game tak kalah modern dengan dunia perfilman tapi tetap saja belum bisa sekadar mendekati popularitas perfilman. Apa yang salah?

“Kalo main game, aku ga main-main.”

-Monica “Nixia”, Indonesian professional female gamer.

 Dibandingkan dengan film, video game adalah sebuah industri yang masih tergolong baru. Film telah dimulai sejak tahun 1890-an oleh beberapa penemu seperti Lumiere bersaudara dan Thomas Edison, sedangkan video game secara komersil baru dimulai pada tahun 1972 lewat konsol Magnavox Odyssey (walaupun pada tahun 1940-an video game serupa Pong atau “Trojan Horse” juga telah pernah dibuat). Namun ketika berbicara teknologi, video game tak kalah modern dengan dunia perfilman, apalagi dengan banyaknya pengaruh dari dunia perfilman itu sendiri (e.g. banyaknya tokoh perfilman yang bekerja di dunia video game, cara bercerita beberapa video game yang sangat sinematis).

Tapi tetap saja, video game belum bisa sekadar mendekati popularitas perfilman, apalagi ketika masuk isu-isu beberapa game yang dianggap oleh media sebagai penyebab rusaknya mental para remaja (seperti pepatah lama, “Karena segelintir video game buruk, rusak nama seluruh dunia video game.”). Oleh karena itu, seringkali beberapa video game populer mencari peruntungan dengan diadaptasi oleh para sineas ke layar lebar. Sayang seribu sayang, putusan ini justru memperparah keadaan karena film-film adaptasi video game tersebut seringkali gagal secara kualitas maupun popularitas. Ujungnya, franchise video game tersebut meredup.

Apa yang salah?

Game-nya sendiri seringkali bukanlah game jelek (Mortal Kombat, Tomb Raider, Silent Hill, dll.). Para sineas yang terlibat juga biasanya cukup mumpuni. Mengesampingkan kasus-kasus dari film adaptasi game yang memang hasilnya jelek (Super Mario Bros., hampir semua film adaptasi game yang dibuat Uwe Boll), film-film adaptasi game terbaik seperti Tomb Raider pun tetap sulit diterima penonton film secara luas.

Mengenai masalah ini, pembuat game Super Mario Bros., Shigeru Miyamoto, dalam sebuah jawaban panjang, mengatakan bahwa inti permasalahannya adalah seringkali video game yang diangkat menjadi film adalah game yang ceritanya kurang kuat untuk difilmkan. Atau dengan kata lain, game tersebut terkenal bukan karena ceritanya, namun karena fitur dan gameplay yang diberikan.

Mungkin terdengar sederhana, karena memang cara menikmati film secara pasif dan menikmati game secara aktif adalah 2 hal yang berbeda. Namun, tidak semua orang menyadarinya secara langsung. Atau coba kita lihat dengan sudut pandang lain: relatif banyak video game yang bisa mendapat rating sempurna 10/10 seperti seri Metal Gear Solid, namun hampir tidak pernah ada hal serupa terjadi di dunia perfilman (ambil contoh rating film di IMDb, kesampingkan sistem persentase freshness dari Rotten Tomatoes atau 5-star rating dari para kritikus film profesional). Sekali lagi, hal ini disebabkan karena video game seringkali diapresiasi dan dinikmati karena fitur dan gameplay-nya serta dapat diulang beberapa kali dengan hasil yang berbeda. Cerita yang bagus dan tampilan memukau adalah bonus. Film, sampai sekarang, seringkali hanya dapat dinikmati secara pasif sehingga membuka banyak peluang untuk dicari kelemahan dan kekurangannya.

Kembali ke permasalahan awal, bagaimana membuat sebuah film adaptasi game yang bisa sukses secara kualitas maupun popularitas? Mengacu pada jawaban Shigeru Miyamoto di 2 paragraf sebelumnya, game yang akan diadaptasi haruslah game yang tidak hanya memiliki gameplay bagus namun juga cerita yang mumpuni. Berdasarkan pengalaman pribadi dan rekomendasi orang-orang, saya pun punya usulan mengenai game-game mana saja yang layak difilmkan: di genre horror ada Amnesia, Left 4 Dead, Alan Wake, dan Eternal Darkness. Di genre action ada Syphon Filter, Call of Duty, dan Spec Ops The Line. Di genre sci-fi ada Bioshock, Soma, dan Dead Space.

Beberapa contoh di atas saja sudah menunjukkan bahwa masih banyak game bagus dengan cerita mumpuni yang menunggu untuk dijadikan film box office dan bermutu tinggi. Kelak bukan tidak mungkin film adaptasi game akan menjadi alternatif yang menyenangkan saat para penonton mulai bosan dengan film adaptasi novel yang mulai monoton.

Do you agree? 😉

Reza Firmansyah

Author: Reza Firmansyah

Mathematician. Doyan film dan musik sejak balita. Calon scriptwriter. Punya 3 'pahlawan' di dunia perfilman: Stanley Kubrick, James Cameron, dan Christopher Nolan.