Durasi Ideal Sebuah Film Laris dan Berkualitas

Categories FandomPosted on

“No good film is too long, no bad film is too short.”
– Roger Ebert (1942-2013), famous film critic.

Kalo ditanya mengenai film-film terpanjang dalam sejarah, biasanya nama yang muncul dari mulut orang adalah Titanic, The Lord of the Rings, atau The Godfather. Namun di luar itu, ada banyak film-film lain, baik eksperimental maupun komersil, yang bikin film-film yang disebut di atas tadi cuma berasa kayak film dokumenter catatan akhir sekolah (not to be confused with the film of the same name, Catatan Akhir Sekolah atau Catatan Akhir Kuliah ya).

Di ranah eksperimental, ada film-film seperti Modern Times Forever (240 jam, JAM, bukan menit), Cinematon (194 jam), Beijing 2003 (150 jam), dan Untitled #125 (120 jam). Di ranah komersil atau yang pernah dirilis di bioskop, ada The Children of Golzow (43 jam) dan The Burning of the Red Lotus Temple (27 jam). Dua judul film yang terakhir disebut sebenarnya terdiri dari beberapa bagian, namun tetap dihitung sebagai satu kesatuan. Oya, kalau mau dihitung-hitung, heksalogi (2 trilogi menjadi 1, halah) dari The Hobbit dan The Lord of the Rings juga bisa tembus 20 jam sih, memperhitungkan extended cuts-nya.

Phew, bahkan Bollywood yang terkenal dengan film-film berdurasi panjang (sampe masih sering pake intermission di pertengahannya buat istirahat sejenak) cuma punya Gangs of Wasseypur sebagai film terpanjang dengan durasi 5 jam 19 menit. Film tersebut juga harus dibagi menjadi 2 part karena bioskop-bioskop India menganggapnya terlalu panjang. Phew lagi.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Sayangnya, sekali lagi salah satu masalah di Indonesia adalah mengenai pencatatan dan pengarsipan data. Data mengenai film terpanjang Indonesia jarang ada yang terkumpul sebagai satu daftar utuh. Film berdurasi panjang yang paling dikenal sih ya film Penumpasan Pengkhianatan G30S karya Arifin C. Noer tahun 1982. Film ini berdurasi 4,5 jam. Tapi di luar itu, setahu gue jarang ada yang mendekati. So, i’ll try to give the top spots, based on my simple search (on Wikipedia, particularly): Penumpasan Pengkhianatan G30S (271 menit), Eiffel I’m in Love: Extended (262 menit), dan Tenggelamnya Kapal van der Wijck: Extended (210 menit).

Now let’s take a further analysis, dari 3 film tadi, hanya Eiffel dan Van der Wijck yang tercatat dalam 25 film terlaris Indonesia saat ini (G30S pernah juga dulu, tapi lebih karena orang-orang diwajibkan nonton sih). Keduanya pun juga mendapat banyak penonton saat belum dibuat versi extended (Eiffel durasinya hanya 2 jam atau kurang, bahkan Van der Wijck pun awalnya 3 jam kurang).

Sekarang kita mau ganti fokus, mengenai film-film terlaris dan terbaik Indonesia. Yuk coba ambil top 5 film terlaris Indonesia berikut durasinya:

  1. Laskar Pelangi (4,6 juta penonton, 125 menit)
  2. Habibie & Ainun (4,5 juta penonton, 118 menit)
  3. Mayat-ma- eh, Ayat-ayat Cinta (3,6 juta penonton, 120 menit)
  4. Ketika Cinta Bertasbih (3,1 juta penonton, 120 menit)
  5. 5 cm (2,4 juta penonton, 125 menit)

Humm, semuanya berkisar di 120 + 5 menit ya? Next, we take at top 5 film Indonesia terbaik sepanjang masa menurut tabloid Bintang tahun 2007 (hey, mengapa sampai sekarang belum ada daftar resmi serupa dari publikasi lain?):

  1. Tjoet Nja’ Dhien (150 menit)
  2. Naga Bonar (95 menit)
  3. Ada Apa dengan Cinta (112 menit)
  4. Kejarlah Daku Kau Kutangkap (104 menit)
  5. Badai Pasti Berlalu (112 menit)

Nah yang ini lumayan beragam, dari durasi film yang cuma 1,5 jam (Naga Bonar) sampe 2,5 jam (Tjoet Nja’ Dhien).

Berdasarkan 2 daftar di atas, kita mungkin bisa menarik sedikit simpulan: film bertema keluarga atau remaja (Laskar Pelangi dan 5 cm) serta romansa atau religi atau gabungan keduanya (Habibie & Ainun, Ayat-ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih) mudah menarik penonton Indonesia; sedangkan film epik/biografi dan romansa juga mampu berpengaruh secara kualitas bagi penonton Indonesia.

Sekarang, bagaimana dengan daftar tersebut versi perfilman dunia (or particularly, Hollywood)? Here’s the spots: film terlaris dunia, “unadjusted for inflation” version first:

  1. Avatar (US$ 2,8 milyar, 161 menit)
  2. Titanic (US$ 2,2 milyar, 195 menit)
  3. Jurassic World (US$ 1,7 milyar, 124 menit)
  4. Marvel’s The Avengers (US$ 1,52 milyar, 143 menit)
  5. Magni- eh, Furious 7 (US$ 1,51 milyar, 140 menit)

and now for the “adjusted for inflation” version (this would be a bit tricky, karena ada beberapa versi, tapi gue akan coba ambil dari Wiki):

  1. Gone with the Wind (US$ 3,8 milyar, 238 menit)
  2. Avatar (US$ 3 milyar, 161 menit)
  3. Star Wars Episode IV (US$ 2,8 milyar, 125 menit)
  4. Titanic (US$ 2,5 milyar, 195 menit)
  5. The Sound of Music (US$ 2,4 milyar, 174 menit)

Mengenai daftar film terbaik dunia, gue akan coba ambil dari versi theyshootpictures.com tahun 2015 (yang untungnya di-update tiap tahun dan hasil kumpulan dari banyak publikasi serupa):

  1. Citizen Kane (119 menit)
  2. Vertigo (128 menit)
  3. 2001: A Space Odyssey (161 menit)
  4. Tokyo Story (137 menit)
  5. The Rules of the Game (113 menit)

So, apa yang mau ditarik dari semua daftar di atas? Seperti judul artikel ini, yang mau gue coba ambil adalah bagaimana cara menentukan rentang waktu durasi film yang tepat untuk menjadikan sebuah film laris dan bagus. Di Indonesia, durasi film terbaik dan terlaris kebanyakan berkisar dari 1,5 jam (Naga Bonar) hingga 2,5 jam (Tjoet Nja’ Dhien). Sedangkan versi Hollywood atau dunia lebih beragam, dari 2 jam (Jurassic World, Star Wars Episode IV) hingga 4 jam (Gone with the Wind).

Tapi kalo menurut gue pribadi, 2,5 jam adalah durasi yang ideal untuk bikin sebuah film blockbuster sekaligus berkualitas. Kenapa? Selain mengacu pada kecenderungan film-film Hollywood belakangan agar dianggap Oscar-worthy dengan durasi yang panjang, serta waktu yang cukup untuk membangun konflik dan cerita yang ‘gripping’, durasi tersebut juga sama dengan durasi maksimum 2 keping VCD kualitas standar (148 menit = 2 x 74 menit). Yah, memang VCD menurut gue udah out of date banget (terutama karena ga ada special features, ga seperti yang diberikan DVD atau Blu-Ray), tapi toh masih ada segelintir cinephile yang suka mengkoleksi VCD, jadi ya silahkan saja.

Kalo mau lebih greget dengan durasi yang masuk ranah epic, bikin aja pada jangkauan 3 keping VCD (148-222 menit), yang bahkan masih di bawahnya Gone with the Wind. Kalo mau tembus hingga 4 jam juga boleh, tapi inget bahwa salah dua dari faktor Gone with the Wind bisa menjadi film terlaris sepanjang zaman adalah selain film itu dirilis beberapa kali (sekitar 7 kali), di tengah-tengahnya juga ada intermission dan entr’acte untuk waktu rehat bagi para penonton.

Nah, berapakah durasi ideal sebuah film laris dan berkualitas menurutmu?

Reza Firmansyah

Author: Reza Firmansyah

Mathematician. Doyan film dan musik sejak balita. Calon scriptwriter. Punya 3 'pahlawan' di dunia perfilman: Stanley Kubrick, James Cameron, dan Christopher Nolan.