Belajar Arti Penting Keluarga dari Film We Bought a Zoo

Categories FandomPosted on

“I don’t have a friend. I have a family.”
– Dominic Toretto (portrayed by Vin Diesel), from Fast & Furious 5

Bagian I
Pendahuluan

Sekitar 2 tahun lalu, saya menonton sebuah film keluarga yang unik berjudul We Bought a Zoo. Film ini diangkat dari buku berjudul sama karya Benjamin Mee, seorang asal Inggris yang menuangkan kisah hidupnya ke dalam buku tersebut.

Sejujurnya, saya agak menyayangkan bahwa film ini relatif tidak begitu dikenal, baik dari kritikus film maupun penonton luas, padahal film ini sangatlah menyentuh dan inspiratif. Komposisi musik yang sangat baik, akting yang tidak berlebihan namun dapat menunjukkan konflik cerita dengan baik, serta penuh dengan pesan-pesan moral yang dapat dijadikan teladan bagi para penontonnya. Oleh karena itu, saya akan mencoba menjabarkan lebih lanjut mengenai film ini, dan bagaimana kita dapat meneladani pesan-pesan yang ada dari film ini.

Bagian II
Review Singkat

Film ini berkisah mengenai Benjamin Mee (Matt Damon), seorang ayah dari 2 anak yang telah ditinggal meninggal 6 bulan oleh istrinya akibat sakit parah. Demi mencari pencerahan, Benjamin memutuskan pindah ke rumah baru. Namun ternyata rumah baru itu juga berdampingan dengan sebuah kebun binatang yang sudah lama tak diurus. Agar kebun binatang tersebut tidak digusur, Benjamin memutuskan untuk merenovasi kebun binatang tersebut agar dapat beroperasi kembali.

Secara teknis, film ini bukanlah sebuah tontonan yang megah ataupun bombastis, mengingat statusnya sebagai film drama keluarga. Film ini pun relatif adem ayem saja karena tidak memiliki pendapatan box office yang dahsyat ataupun memenangkan banyak penghargaan bergengsi seperti Oscar ataupun Golden Globe.

Namun di balik statusnya yang adem ayem tersebut, film ini menyimpan banyak keunggulan yang tidak selalu ditemui di film-film lain. Di antaranya, kualitas akting yang mumpuni dari para aktor seperti Matt Damon dan Scarlet Johansson. Mereka dapat memberikan penampilan yang baik dan membawa alur cerita tanpa harus menjadi lebay atau norak. Film ini juga memiliki soundtrack yang cukup mumpuni, di mana artis utamanya adalah Jonsi Birgisson, yang biasanya menjadi vokalis dan gitaris dari band asal Islandia, Sigur Ros.

Yang tidak kalah menarik dari film ini adalah banyaknya pesan moral mengenai pentingnya keluarga dan optimisme. Salah satu contohnya adalah adegan di mana Benjamin memerlukan uang sejumlah “one and a half buck” untuk renovasi kebun binatangnya. Anak bungsunya, Rosie (Maggie Elizabeth Jones), mengira bahwa uang yang diperlukan adalah 1,5 dollar, menawarkan untuk membantu ayahnya. Ketimbang mengatakan bahwa uang milik Rosie tidak cukup, Benjamin menerima bantuan dari Rosie tersebut, sebagai penghargaan atas niatan baik dari Rosie.

Atau salah satu momen optimisme lain, yang menjadi bagian penting dari film ini, adalah ketika sang penjaga kebun binatang, Kelly, mempertanyakan mengapa Benjamin, seorang yang tak pernah mengurus kebun binatang, memutuskan merenovasi kebun binatangnya. Benjamin malah menjawab, “mengapa tidak?”. Kutipan tersebut merupakan jawaban dari istrinya dulu, Katherine (Stephanie Szostak), saat pertama kali bertemu dengan Benjamin. Kala itu, Benjamin bertemu dengan Katherine di restoran. Karena terpesona dengan kecantikannya, Benjamin menggunakan “20 detik keberanian” untuk mengajak berkenalan dengan Katherine. “20 detik keberanian tersebut” ternyata berhasil membuatnya menjadikan Katherine sebagai istrinya kelak, yang istrinya kelak mengajarkannya untuk berani bertindak (“mengapa tidak?”), yang pada akhirnya membimbing Benjamin berhasil merenovasi kebun binatangnya dengan sukses.

Bagian III
The Important Steps

Setelah memberikan review singkat dan keunggulan-keunggulan dari film We Bought a Zoo, di bagian ini saya akan mencoba memberikan beberapa tips agar kita dapat meneladani beberapa contoh perilaku teladan dari film We Bought a Zoo agar kita dapat membentuk keluarga yang tentram dan damai.

Berikut adalah langkah-langkahnya yang saya sarankan:

  1. Menanamkan sifat optimisme. Ketika anggota keluarga kita memiliki niatan yang baik, walaupun terlihat sulit, kita harus mendukung dan membantu mewujudkan niatannya.
  2. Menanamkan suasana keterbukaan. Biasakan agar setiap anggota keluarga bisa terbuka kepada keluarganya ketika ada hal yang perlu dibicarakan, dan keluarga pun harus menerima masukannya dengan baik.
  3. Belajar merelakan (“move on, let go”) terhadap hal-hal yang memang tak lagi bisa menjadi milik kita. Di filmnya, Benjamin mengalami kesedihan berlarut-larut akibat ditinggal meninggal istrinya, Katherine, dan berusaha melupakan segala yang berhubungan dengan Katherine agar tidak sedih lagi. Namun ketika dia menyadari bahwa Katherine akan selalu menjadi bagian penting di hidupnya, walaupun sudah meninggal, Benjamin pun menjadi lebih optimis dalam menjalani hidupnya dan merenovasi kebun binatangnya.

Bagian IV
Penutup

Penulis berharap bahwa melalui tulisan ini, kita bisa lebih menyadari arti penting keluarga demi kehidupan yang damai dan tentram. Penulis juga berharap bahwa dengan contoh film-film berkualitas seperti We Bought a Zoo, kita dapat menekankan pentingnya film-film dengan pesan moral positif agar dapat membangun karakter bangsa yang berkualitas tinggi.

 

Depok, Juli 2016

Penulis

Reza Firmansyah

Author: Reza Firmansyah

Mathematician. Doyan film dan musik sejak balita. Calon scriptwriter. Punya 3 'pahlawan' di dunia perfilman: Stanley Kubrick, James Cameron, dan Christopher Nolan.