7 Hal Tentang Mini-Series dan Kenapa Penting bagi Indonesia

Categories FandomPosted on

“It’s better to burn out than to fade away.”
– Neil Young – Hey Hey My My (Into the Black)

Zaman sekarang, Indonesia telah memiliki puluhan sinetron di lebih dari 10 stasiun TV swasta, di mana hampir semuanya tayang setiap hari (terkadang 1 hari langsung 2 episode). Kalo berpikir jumlah segitu masih sedikit, coba ambil sembarang 10 sinetron untuk kamu streaming dari episode awal hingga akhir (atau yang terbaru, kalo belum abis), maka kemungkinan besar setelah selesai streaming uban udah mendominasi rambutmu.

Sayang seribu sayang – dan masalah utamanya – jumlah tersebut ga sebanding dengan mutu dari sinetron-sinetron yang ditayangkan. Lihat aja temanya yang ga jauh dari cinta-cintaan, rebutan warisan, cinta warisan, rebutan cinta, serta sekumpulan plot yang ga real tapi ditampilkan seolah-olah seperti itulah kehidupan nyata. Bahkan logika surealistik yang ditampilkan dalam Spongebob pun masih lebih waras dibanding sinetron-sinetron kebanyakan.

Mengingat bahwa untuk sementara di Indonesia jumlah episode sinetron dan kualitasnya merupakan perbandingan resiprokal, maka konsep mini-series, atau 13-episodes-or-less-per-season-series, yang sudah lazim di Inggris (serta mulai banyak diterapkan serial-serial Amerika, contohnya Game of Thrones), perlu diterapkan di Indonesia agar bisa menyelamatkan kualitas sinetron Indonesia, dan pada akhirnya, juga nasib bangsa ini. Berikut alasan-alasannya:

1. Ga menyita waktu
Jelas, nonton 1-3 sinetron tiap malem akan sangat menyita waktu. Dengan mengambil konsep mini-series, mau ga mau tayangnya harus seminggu sekali biar ga cepet selesai. Memang nunggunya lama, tapi feel-nya akan lebih berasa dibandingkan nonton tiap hari tapi ga dapet maksudnya. Setelah nonton satu mini-series, kita bisa milih untuk kembali ke kerjaan kita masing-masing.

2. Lebih murah biaya produksinya
Mungkin para pembuat sinetron seperti Tukang Bubur Sudah Mati (iya, seinget gue judulnya bukan itu, tapi emang kenyatannya gitu kan?) akan bilang, “Lha, cara kami udah murah kan? Ga ada pengembangan cerita, setting di situ-situ aja. Tetep banyak yang nonton, kita dapet duit banyak. Beres.”. Tapi pada saat yang sama, mereka harus tanggung jawab karena bikin orang terpaku pada tayangan yang juga bikin mereka ga ada pengembangan.
Kalau memang harus bikin episode banyak, kenapa ga dialihkan ke serial lain, atau dari tokoh-tokoh pendukung dari sinetron tersebut? (ini akan berhubungan dengan konsep shared universe, tapi cocoknya ada artikel sendiri) Buatlah progress supaya orang ga cepet bosen. Ingat, lebih baik bikin orang penasaran karena selesainya cepet dengan kualitas bagus daripada bikin orang penasaran kapan selesainya karena ceritanya jelek. Sama-sama bikin penasaran, tapi pada alasan yang sama sekali berbeda.

3. Memungkinkan kualitas yang lebih bagus
Sinetron yang ada kebanyakan digarap sebanyak mungkin selama ‘rating’-nya bagus (note: rating tadi dikasih tanda kutip bukan karena dia merupakan kata serapan, namun lebih karena konsep rating yang sering para sinetron tadi pakai terkadang diragukan kredibilitasnya). Dengan mini-series, mau ga mau harus bikin yang bagus, karena para kreator cuma punya, katakan untuk adaptasi dengan budaya Indonesia, 19 episode per season (atau bahkan hanya 1 season). Tentu mereka ingin mendapat keuntungan yang banyak dan dikenang sebagai tontonan yang berkualitas, agar mereka ‘diizinkan’ untuk bisa bikin sinetron lain yang ga kalah bagus.
Selain itu, kalaupun kualitas episode-episode awal belum menarik orang, ada keuntungan lain dari format mini-series.

4. Ga bisa berhenti tayang hanya karena masalah rating
Iya lah, wong program-nya udah jadi, sayang kan kalau baru tayang 3 dari 19 episode langsung berhenti? Di sisi lain, sinetron lain biasanya berdasarkan sampling beberapa episode terlebih dahulu, jadi kalau rating-nya ga memuaskan mereka tinggal bilang ‘stop’ dan orang sibuk jengkel karena ending-nya ga jelas (atau bersyukur kalo dari awal udah menyenangkan untuk ga ditonton).

/img src: https://shaunmbeesheep.wordpress.com/

5. Lebih bisa diterima masyarakat internasional
Sebagai perbandingan, ‘sinetron’ di Amerika (biasanya disebut serial atau series) biasanya ditayangkan dalam 20-an episode per tahun (atau disebutnya season). Bahkan beberapa orang Amerika menganggap jumlah segitu terlalu banyak. Bukannya ga ada sinetron Amerika yang sampe ratusan episode per tahun, tapi biasanya juga masih bagus. Bisa bayangin gimana reaksinya mereka kalau tau kultur sinetron Indonesia saat ini yang dalam setahun bisa ratusan episode 1 jam-an? Seandainya Edvard Munch ada saat para penonton Amerika sibuk bergaya kaget a la Macaulay Culkin dalam Home Alone, dia akan membuat lukisan The Scream yang direvisi dan menggebu-gebukannya sebagai masterpiece-nya.

6. Kecil kemungkinan untuk ditunggu “kapan selesainya?” oleh penonton
Yang namanya mini-series biasanya konsisten dalam jumlah episode per season-nya. Kalaupun menyimpang, biasanya ga terlalu jauh. Jadi, orang kalau memang kurang tertarik yang tinggal ga usah nonton, tapi kalau suka juga ya tinggal menebak-nebak aja, dari sisa episode yang berjalan, ending-nya akan seperti apa.

7. Memungkinkan variasi yang lebih banyak dalam dunia sinetron Indonesia
Ini mungkin agak bertentangan dengan poin #2, tapi itu kan kalau bicara biaya total membiayai produksi 2 sinetron mini-series atau lebih. Format mini-series akan memaksa para pembuat sinetron untuk bisa menghasilkan banyak sinetron yang berkualitas tanpa harus terpaku pada 1 sinetron yang dipanjang-panjangkan seperti yang biasa terjadi saat ini. Kembali lagi pada poin #2, konsep shared universe bisa diterapkan agar sinetron-sinetron yang dibuat tetap bisa memiliki sesuatu yang familiar untuk menarik penonton, namun harus cukup berbeda agar tidak dianggap sebagai hanya sinetron yang sama (lebih lanjutnya akan ada di artikel gue mengenai pentingnya konsep shared universe di dunia film maupun sinetron Indonesia).

Demikian 7 poin versi gue mengenai pentingnya konsep mini-series di Indonesia. Semoga yang membaca artikel ini termasuk para pembuat sinetron, atau siapapun yang bisa mengakibatkan ide-ide ini tertanam di benak para pembuat sinetron, agar bangsa kita bisa lebih maju dengan tontonan-tontonan yang lebih terhormat. Aamiin. 🙂

Reza Firmansyah

Author: Reza Firmansyah

Mathematician. Doyan film dan musik sejak balita. Calon scriptwriter. Punya 3 'pahlawan' di dunia perfilman: Stanley Kubrick, James Cameron, dan Christopher Nolan.