6 Tips Membuat Film Horor Indonesia (yang Beneran Serem)

Categories FandomPosted on

Zaman sekarang, banyak film horor Indonesia yang masih cenderung identik dengan fast food semacem Tex*s Fried Chicken: memang menakutkan bagi ayamnya, tapi isinya ga jauh dari paha dan dada. Padahal menurut etimologi awalnya, film horor adalah film yang membuat rasa tidak nyaman bagi para penontonnya (dalam beberapa hal, film jelek pun juga bikin penontonnya ga nyaman sih).

Zaman Suzanna masih main jadi kuntilanak atau sundel bolong semasa hidupnya, film horor Indonesia bisa bikin kita beneran takut kalo keluar malem-malem (selain dari masalah rampok atau begal). Walaupun mungkin tergolong ‘jinak’ dibanding film-film Indonesia sekarang, baik dari segi efek visual maupun make-up-nya, namun film-film horor Indonesia zaman tersebut berhasil menimbulkan rasa tidak nyaman dan takut saat dan setelah menontonnya.

Beberapa tahun lalu, para matematikawan dari King’s College London memberikan rumus untuk sebuah film horror yang benar-benar menyeramkan. Rumusnya rada ribet, jadi gue katakan aja bahwa menurut rumus tadi, faktor-faktor yang menentukan keseraman sebuah film horor adalah: musik, sesuatu yang tak terlihat, adegan kejar-kejaran, suasana gelap dan klaustrofobik/menjebak, jumpscare, keseimbangan antara dunia nyata dan fiksi, jumlah tokoh yang tidak terlalu banyak atau bahkan sendirian, serta adegan yang mengandung darah atau gore. Rada ribet, emang.

Tapi sekarang, terinspirasi dari sebuah artikel di www.cracked.com, gue mencoba mengajukan beberapa saran sederhana agar film-film horor Indonesia (atau bahkan dunia) bisa menjadi film yang bener-bener serem. Here they come:

1. Tampilkan Sang Monster/Hantu Hanya Sebagian

Menurut seorang pakar film (sorry gw lupa), film horor menyeramkan selama sang tokoh antagonis belum tampil seutuhnya. Namun ketika sang tokoh antagonis sudah muncul, maka film tersebut telah masuk ke dalam ranah thriller. Jadi, usahakan tampilkan sang tokoh antagonis secara penuh hanya menjelang akhir film, ketika konflik mencapai klimaks. Ambil contoh film Jaws (1975), sang hiu hanya muncul siripnya saja hingga menjelang beberapa menit akhir film. Walaupun hanya muncul siripnya saja, namun kita tahu bahwa itu adalah hiu lapar yang bisa menghabisi kita sewaktu-waktu ketika kita jadi sasarannya, dan film itu berhasil bikin banyak orang takut ke pantai.

2. Improvisasi Penggunaan ‘Jumpscare’ dan Musik

Zaman sekarang sudah banyak film horor yang mengandalkan jumpscare untuk menakuti penontonnya. Memang sih seringkali berhasil (I’m poking you, “Five Nights at Freddy’s”). Namun sayangnya, penggunaan jumpscare ini udah seringkali terlalu jelas, sampai pada tahap di mana musik dan kameranya bikin kita siap-siap jump, tapi bukan scared, ketika sang tokoh antagonis menakuti tokoh utamanya.

Ambil contoh lagi ke film Jaws.

SPOILER ALERT!

Ketika sang hiu mulai beraksi, saat siripnya kelihatan, langsung ada musik tegang legendaris karya John Williams mengiringinya yang bikin tegang (you know, “dung-dung dung-dung dung-dung dung-dung”). Namun, dari 2 adegan di mana sang hiu kelihatan full-body (pertengahan dan akhir), musik tegang tersebut malah ga ada sama sekali, yang membuat kita jadi beneran kaget karena ga nyangka si hiu akan nongol.

To put it simply, kita ga protes dengan penggunaan jumpscare, tapi tolong kembalikan penekanan ‘scare’-nya ketimbang ‘jump’-nya.

3. Berikan Kesempatan pada Sutradara Film Drama (atau Genre Non-Horor Lain)

Bukan mau ngelarang sutradara baru untuk terjun ke genre horor. Cuma, sutradara yang cenderung bikin horor aja malah cepet habis idenya untuk menghasilkan film horor yang bagus, kayak si “N” (yang punya banyak nama alias itu), walaupun sebenernya dia ga cuma horor juga sih.

Ambil contoh ke Jaws (lagi): sutradaranya, Steven Spielberg, jarang bikin film bergenre horor. Salah satu legenda sepanjang zaman, Stanley Kubrick, menjadikan The Shining (1980) sebagai satu-satunya film horor yang pernah dia buat. John Carpenter, sutradara di balik The Thing (1982), juga memberikan film Escape from New York (1981) (yang menginspirasi franchise video game Metal Gear Solid).

Jadi, dengan pakem tadi, boleh lah kita membujuk agar Gareth Evans The Raid (2011), Anggy Umbara Comic 8 (2014), atau Sunil Soraya Tenggelamnya Kapal van der Wijck (2013) untuk menjajal genre horor. Paling tidak, mereka mampu memberi suasana baru untuk film horror.

4. Hindari Jenis Film “Psychopath Kills Everyone for No Reason at All”

Iya, jenis film ini emang bikin tegang dan menimbulkan rasa tidak nyaman. Tapi membuat film horor yang seolah-olah mendigdayakan kekerasan tanpa alasan jelas juga bukan sesuatu yang bisa diterima akal sehat. Malah, film seperti ini bisa-bisa membuat akal sehat para penontonnya ikut-ikutan terganggu dan menjadi psikopat (atau minimal sosiopat).

5. Berikan Sebuah Tema yang Relevan dan Analog dengan Kehidupan Sehari-hari

Kebanyakan film, termasuk film horor, merupakan karya fiksi. Namun seringkali inspirasinya berasal dari situasi sehari-hari, sekalipun tidak selalu tampak. Ambil beberapa contoh: The Thing (1982) merupakan analogi rasa takut terhadap orang asing (xenophobia) di era Perang Dingin (alien, Antarctica, quite blatantly obvious uh?), It Follows (2014) merupakan gambaran rasa takut terhadap penyakit menular yang ditimbulkan oleh seks sembarangan, dan Silent Hill (2006) menggambarkan ketakutan terhadap kelompok cult militan yang menggunakan segala cara dalam menyebarkan ajaran-ajarannya.

Nyambung ke poin 4 tadi, apa analogi dari “psychopath kills everyone for no reason at all” di kehidupan nyata? “Hati-hati dengan orang asing, atau bahkan kerabat dekat sekalipun” mungkin jawaban yang tepat, tapi seringkali makna dan pesan tersebut ketutup darah dan potongan korban sang psikopat.

6. Design, Make-up, dan Marketing Tak Kalah Penting

Gue teringet beberapa film horor Indonesia yang, walaupun belum nonton, tapi gue rasa bakal jelek. Kenapa? Poster-nya poorly made. Sebelum ada yang mau nyolek gue mengenai pepatah “Don’t judge the book by its cover”, perlu diinget bahwa film-film blockbuster Hollywood seringkali menghabiskan biaya marketing yang hampir sama dengan biaya produksi filmnya sendiri. Dan itu udah termasuk biaya bikin poster yang keren, serta posternya pun sekarang biasanya ga cuma satu.

Next, make-up dari para tokoh antagonis serta desain artistik dari suasana filmnya juga sangat mendukung agar filmnya bisa menjadi suatu tontonan yang benar-benar menyeramkan. Kalo misalnya kekurangan biaya untuk membuat make-up dan desain artistiknya, ambil minimalisme a la poin 1 di atas.

Oya, balik lagi ke masalah poster, sebaiknya gunakan tipe poster yang, kalo istilah di salah satu artikel Filminx sebelumnya, “senyap-rupa-rupa” (atau “sepi” aja juga boleh). Bisa kayak Jaws, atau The Thing. Usahakan bukan tipe “berisik-rupa-rupa” yang mejengin semua pemainnya dengan pose masing-masing, karena beresiko membuat calon penonton berpikir bahwa filmnya mengutamakan “star factor” ketimbang cerita yang ditawarkan filmnya.

So there you go, 6 tips untuk bikin film horor Indonesia yang diharapkan bisa lebih serem dan berkualitas. Siapa tau dengan pake 6 saran tadi, ada film horor yang bisa masuk nominasi Piala Citra atau bahkan festival film dunia, Aamiin. 🙂

Reza Firmansyah

Author: Reza Firmansyah

Mathematician. Doyan film dan musik sejak balita. Calon scriptwriter. Punya 3 'pahlawan' di dunia perfilman: Stanley Kubrick, James Cameron, dan Christopher Nolan.