2 Tipe Temporal Paradox pada Perjalanan Waktu

Categories SciTechPosted on

You see, there is only one constant. One universal. It is the only real truth. Causality. Action, reaction. Cause and effect.

– Merovingian (Lambert Wilson), from The Matrix Reloaded (2003)

So far, mungkin artikel ini akan agak berat dibanding artikel-artikel gue sebelumnya. But I’ll try to make it still accessible to general audience. With that in mind, yok gue mulai artikelnya:

Selama ini sudah banyak novel maupun film yang berkisah tentang mesin waktu atau perjalanan waktu, baik ke masa depan maupun ke masa lalu. Menurut teori relativitas milik Einstein dkk. (dan konco-konconya), perjalanan waktu ke masa depan dapat dimungkinkan dengan menggunakan wormhole, yaitu “lubang cacing” yang menjadi jalan pintas antara 2 tempat yang sangat jauh (karena dapat menghemat waktu saat perjalanan super jauh) atau menggunakan kendaraan yang bisa melaju dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya (299.792,458 km/detik), di mana waktu yang dialami benda yang bergerak dengan kecepatan sangat tinggi akan mengalami waktu yang lebih lambat dibanding benda dengan kecepatan rendah.

Namun masalah muncul ketika kita membicarakan perjalanan waktu ke masa lalu. Bagaimana mungkin melakukan perjalanan ke masa lalu, ketika:

  1. Masa lalu telah terjadi
  2. Apakah yang kita lakukan saat pergi ke masa lalu dapat mengubah masa depan yang kita alami sekarang?

Permasalahan diatas menghasilkan paradoks yang dibagi dalam 2 kelas utama. Pertama, Causal Loop/Ontological Paradox/Bootstrap Paradox/Predestination Paradox, di mana dalam sebuah hubungan sebab-akibat, sebuah kejadian penyebab di masa depan menghasilkan sebuah kejadian akibat di masa lalu. Paradoks semacam ini ditampilkan dalam film seperti Terminator, Interstellar, Predestination, dan Harry Potter 3 (Prisoner of Azkaban). Kelas berikutnya adalah Grandfather Paradox, di mana ketika sebuah perjalanan ke masa lalu dilakukan dan pada saat perjalanan itu terjadi sebuah peristiwa yang membuat alasan sang pengelana ke masa lalu menjadi hilang. Paradoks semacam ini ditampilkan dalam film seperti Looper, A Sound of Thunder, dan Back to the Future.

2 paradoks inilah yang membuat ilmuwan sekelas Stephen W. Hawking pun (pernah) tidak percaya dengan kemungkinan adanya mesin waktu, dengan mengatakan, “Kalau memang mesin waktu bisa ada, manakah turis-turis dari masa depan?”.

Namun belakangan, banyak ahli fisika seperti Michio Kaku dan Stephen Hawking sendiri membuka kemungkinan mengenai perjalanan ke “masa lalu”. Sebabnya adalah teori “Many-Worlds Interpretation” (MWI) yang dikemukakan oleh fisikawan Hugh Everett. Teori ini sebenarnya sudah dikemukakan oleh Everett sejak tahun 1957, namun dianggap mengada-ada oleh para fisikawan.

Teori MWI mengatakan bahwa untuk setiap pilihan yang terjadi dalam hidup kita di mana ada beberapa hasil yang mungkin terjadi (misalnya, ikut ujian masuk perguruan tinggi), setiap hasil tersebut terjadi namun pada ‘dunia’ yang berbeda atau pada alam semesta paralel (misal, di dunia yang kita tingggali sekarang kita lulus dalam ujian masuk perguruan tinggi, namun di dunia paralel kita gagal mengikuti ujian tersebut). Contoh penggunaan teori MWI dapat kita lihat dalam film Sliding Doors yang dibintangi Gwyneth Paltrow, di mana film tersebut memiliki 2 cerita: satu di mana tokoh yang diperankan Paltrow ketinggalan kereta, tak jadi rujuk dengan pacarnya, dan meninggal (apes banget sih), sedangkan cerita satu lagi menunjukkan tokohnya Paltrow berhasil naik kereta dan rujuk dengan pacarnya.

Maka, teori MWI pun juga membuka kemungkinan mengenai perjalanan waktu ke masa lalu: bahwa ketika kita melakukan perjalanan ke masa lalu, sebenarnya “masa lalu” yang kita datangi berada di alam semesta paralel, sehingga kedua jenis paradoks perjalanan waktu tadi dapat dihindari. Misal, ketika kita ‘iseng’ memacari dan menikahi ibu kita di masa lalu, maka masa lalu dan masa kini dari diri kita yang asli tidak akan berubah, karena ”ibu kita” yang kita nikahi saat pergi ke “masa lalu” berasal dari alam semesta paralel, di mana “diri kita” di alam semesta yang paralel itu menjadi tidak ada.

Sebelum otak kalian (dan otak gue juga) keburu capek baca dan mikirin artikel ini, simpulannya adalah: kalo mau gue bikin teorema (ciaelah), “perjalanan waktu dapat dilakukan jika dan hanya jika ada alam semesta paralel”. Karena perjalanan waktu dimungkinkan, maka alam semesta paralel pun juga ada (asalkan  sarana dan prasarananya juga ada).

Sebagai tambahan, fisikawan Max Tegmark pernah berujar, “Kritikan para ilmuwan mengenai teori MWI telah bergeser dari ‘teori itu tidak masuk akal dan aku membencinya’, menjadi ‘aku membenci teori itu’”. Jadi, apakah mesin waktu akan hadir dalam masa hidup kita? Biarkan waktu yang akan menjawabnya. 😉

Reza Firmansyah

Author: Reza Firmansyah

Mathematician. Doyan film dan musik sejak balita. Calon scriptwriter. Punya 3 'pahlawan' di dunia perfilman: Stanley Kubrick, James Cameron, dan Christopher Nolan.